Air merupakan sumber daya alam yang sangat berguna bagi kehidupan makhluk hidup. Kebutuhan air bersih dan perubahan iklim mengancam ketersediaan air dunia. Jumlah permintaan pangan yang melampaui perkiraan, urbanisasi yang semakin meningkat serta perubahan iklim adalah faktor utama penyebab kelangkaan air bersih. Berdasarkan Laporan Perkembangan Air Dunia PBB (UN World Water Development Report) mengungkapkan bahwa permintaan pangan dunia akan naik sebesar 70% pada tahun 2050, hal ini menyebabkan kebutuhan air untuk pertanian melonjak hingga 19%. Ketersediaan air dan pangan (water and food security) merupakan tema yang diangkat pada hari air dunia 2012.
Setiap harinya ada 7 miliar yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia di dunia dan 2 miliar lagi akan dibutuhkan tahun 2050. Menurut statistik, masing-masing orang membutuhkan air untuk minum 2 – 4 liter perhari. Sebagian besar air yang kita butuhkan untuk minum digunakan untuk memproduksi makanan yang kita makan tiap harinya. Coba kita cermati, untuk memproduksi 100 gram beras dibutuhkan 140 liter air, 1 telur membutuhkan 135 liter air dan 50 gram daging membutuhkan 230 liter air, total 505 liter tertanam air. “kita makan terlalu banyak air”, tahukah anda bahwa 70% air tawar dunia digunakan untuk pertanian? Dapatkah kita menghasilkan lebih banyak makanan dengan sedikit air? Dan kita bisa menggunakan kembali dan mendaur ulang air dalam produksi makanan?
Seharusnya dunia melihat manfaat air secara luas dan mengerti sangat berharganya sumber daya alam ini. Air tawar masih digunakan secara tidak bijaksana, tidak sesuai permintaan dan kebutuhan. Dilain sisi, pertumbuhan yang semakin meningkat dibandingkan jumlah sumber daya air yang relatif tetap membuat air sangat dibutuhkan keberadaannya. Menurut laporan yang berjudul “Managing Water under Uncertainty and Risk” menyatakan bahwa banyak negara yang menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Dalam 50 tahun terakhir penggunaan air tanah meningkat hingga tiga kali lipat. Pada wilayah tertentu kondisi air tanah sangat memprihatinkan dan tidak bisa dipulihkan lagi. Perubahan iklim, perubahan pola hujan dan kelembapan tanah, gletser yang terus mencair serta bencana banjir dan kekeringan dapat mempengaruhi produksi pangan dunia. Laporan ini memerkirakan pada tahun 2070, lebih dari 44 juta penduduk di seluruh dunia akan terkena dampaknya. Tanpa tindakan yang serius, bencana kekeringan ini akan sangat merugikan terutama bagi masyarakat miskin.
Disaat jutaan orang di dunia hidup dalam kelaparan dan kekurangan sumber air, sangat tidak pantas bagi kita menutup mata melihat peristiwa ini. Berbagai macam teknik dapat kita lakukan untuk mengelola sumber daya air tanpa mengorbankan sektor pertanian dan ekosistem. Konservasi air dan tanah, peningkatan efektifitas lahan pertanian dan pemanenan air hujan adalah beberapa teknik yang dapat dilakukan serta berpotensi mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.
Saat ini masyarakat perkotaan tidak memiliki akses air yang baik. Sanitasi yang tidak baik serta tingkat kesadaran masyarakat yang kurang menjadi kendala pengelolaan air. Bahkan 80% air limbah di dunia belum diolah kembali dan dikumpulkan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya air yang cukup melimpah. Untuk saat ini, pangan masih menjadi perbincangan dikalangan masyarakat. Indonesia masih mengimpor beras dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan pangan di negeri sendiri. Padahal pada era orde baru Indonesia adalah negara dengan swasembada pangan. Banyak lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi pemukiman. Banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau merupakan gejala yang sering terjadi di Indonesia. Pemanenan air hujan tentunya akan sangat tepat diterapkan untuk mengatasi masalah ini. Selain untuk menjaga ketersediaan air, pemanenan air hujan juga bermanfaat untuk irigasi pertanian. Kebutuhan air untuk produksi pertanian dapat diambilkan dari pemanenan itu, yang mana sebelumnya berasal dari air untuk minum. Oleh sebab itu, kita harus bijak dalam meningkatkan produktifitas pengelolaan dan efisien dalam penggunaannya. Dan air untuk masa depan masih tetap terjaga kelestariannya.
Referensi dan sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar